Dr. Tirta: Belajar Bahasa Asing Turunkan Risiko Pikun
Manfaat Belajar Bahasa Asing bagi Otak
Seiring bertambahnya usia, penurunan fungsi kognitif sering dianggap sebagai konsekuensi alami yang tidak terelakkan. Namun, sejumlah studi menunjukkan bahwa otak memiliki kemampuan untuk ‘meremajakan’ dirinya sendiri melalui tantangan baru, salah satunya adalah belajar bahasa asing.
Seorang dokter sekaligus pemengaruh kesehatan, Tirta Mandira Hudhi memberikan penjelasan tentang manfaat belajar bahasa asing bagi otak. Melalui akun YouTube resminya, alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menjelaskan bahwa belajar bahasa asing dapat mengurangi risiko demensia atau pikun. Selain itu, penguasaan bahasa asing membuka peluang besar di ranah pekerjaan.
Kecerdasan Linguistik dan Peluang Karier
Tirta menegaskan bahwa kemampuan berbahasa termasuk dalam kecerdasan linguistik yang harus dimiliki. Penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, membuka peluang besar di dunia kerja. “Orang yang bisa memiliki kemampuan bahasa lebih dari 6 berarti cerdas banget dan biasanya IQ-nya tinggi,” ujarnya.
Dalam siniar tersebut, Tirta mengutip sebuah artikel jurnal bertajuk Learning Another Language May Slow Brain Aging, Huge New Study Finds dengan 80 ribu responden. Dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa berbicara dalam beberapa bahasa dapat memperlambat penuaan otak serta membantu mencegah penurunan kognitif.
Risiko Penuaan Biologis yang Lebih Rendah
Orang dengan kemampuan multibahasa memiliki risiko setengah lebih rendah dalam hal tanda-tanda penuaan biologis dibandingkan dengan mereka yang hanya berbicara satu bahasa. “Karena di sini ada area Wernicke yang membuat kita memorize. Jadi terlatih untuk mengeluarkan bahasa tersebut,” jelasnya sembari menunjuk lokasi Wernicke di sisi kiri otak.
Wernicke sendiri merupakan area vital sebagai pusat pemahaman bahasa. Dalam siniar tersebut, Tirta juga menukil sebuah artikel jurnal berjudul Learning a Foreign Language: A Review on Recent Findings About Its Effect on The Enhancement of Cognitive Functions Among Healthy Older Individuals. Dikatakan bahwa pemerintah di seluruh dunia berusaha mengembangkan kegiatan alternatif non-farmakologis yang dapat membantu mencegah penurunan kognitif lansia guna mengurangi beban ekonomi dan sosial di masa depan.
Mengurangi Risiko Alzheimer
Artikel tersebut menemukan bahwa pembelajaran bahasa asing dapat meningkatkan fungsi kognitif, kepercayaan diri, serta peluang bersosialisasi yang lebih besar. Tirta melanjutkan bahwa penguasaan bahasa asing dapat mengurangi risiko terjadi Alzheimer sampai 4,5 tahun. “Lho kok bisa? Karena ketika kamu berkomunikasi bukan dengan bahasa utamamu, otakmu akan bekerja keras. Jadi dia bergonta-ganti untuk melatih memori, lebih konsentrasi, dan akhirnya bisa melakukan multitasking,” paparnya.
Dirinya mengaku senang terhadap kebiasaan anak muda saat ini yang berkomunikasi menggunakan dua bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Menurutnya, hal tersebut melatih otak untuk multitasking. Ia menganalogikan penggunaan bahasa asing dalam berkomunikasi dengan gym. Dalam gym, terdapat metode cross training (latihan silang) yang menggabungkan bermacam jenis olahraga dalam satu program latihan.
Fleksibilitas Mental dan Kecerdasan Emosional
Cross training dilakukan untuk mengurangi risiko cedera akibat gerakan repititif. “Ini cross training tapi di otak. Jadi biar otaknya enggak kayak bola bowling yang halus kayak otak udang,” ungkap Tirta dengan nada suara sengaknya yang khas.
Selain menahan penurunan fungsi kognitif, penguasaan bahasa asing juga berguna bagi fleksibilitas mental. Orang polyglot cenderung mudah beradaptasi. “Jadi, dia bisa beradaptasi dengan baik dan bisa memahami karena bahasa adalah bentuk komunikasi,” ujarnya.
Tak hanya itu, kecakapan berbahasa asing juga mengurangi anxiety serta meningkatkan empati. “Soalnya kita mulai memahami bahasa mereka,” jelasnya.
Teknologi yang Memudahkan Pembelajaran Bahasa
Dokter yang memiliki hobi lari itu juga menyoroti pengembangan teknologi yang berkelindan erat dengan kemudahan akses belajar bahasa asing. Terlebih, hadirnya kecerdasan artifisial mampu menjawab kebutuhan belajar bahasa yang dulu dianggap prestisius karena biayanya yang mahal.
Tirta mendorong semua lapisan masyarakat untuk memanfaatkan kemajuan teknologi ini untuk belajar bahasa. Terutama bagi para karyawan yang memiliki keterbatasan waktu. Sebab, dewasa ini, belajar bahasa bisa lebih fleksibel, di mana saja dan kapan saja. “20 tahun lalu saya mempelajari bahasa asing itu les privat, mahal. Cuma kan tidak semua orang memiliki financial ability seperti saya. Dengan perkembangan teknologi itu merevolusi semua hal termasuk pembelajaran bahasa,” pungkasnya.
- He cares too much. Guys with that kind of heart - January 15, 2026
- Dr. Tirta: Belajar Bahasa Asing Turunkan Risiko Pikun - January 15, 2026
- ‘Aku mati karena FOMO’: Surat keterangan kematian yang ditulis sendiri oleh seorang wanita menjadi viral - January 15, 2026




Leave a Reply