Munahir, Satpam SMKN 1 Dompu Jadi PPPK Paruh Waktu dan Dapat Umrah

Pengabdian 34 Tahun Munahir Akhirnya Diakui dengan Status PPPK Paruh Waktu

Munahir, seorang satpam di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), akhirnya mendapatkan kejelasan status kepegawaian setelah 34 tahun mengabdi. Ia diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu, yang menjadi langkah penting dalam kariernya.

Pria berusia 56 tahun ini menerima Surat Keputusan (SK) PPPK Paruh Waktu bersamaan dengan 9.410 pegawai lainnya di halaman Kantor Gubernur NTB, pada Selasa (23/12/2025). Di momen tersebut, ia juga mendapat hadiah istimewa dari Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, yaitu umrah gratis.

“Saat itu, saya langsung menangis dan sujud syukur di depan Pak Gubernur,” kata Munahir saat ditemui di SMKN 1 Dompu, Selasa (30/12/2025).

Ia mengaku terkejut ketika tiba-tiba ditunjuk untuk maju ke podium oleh Gubernur Iqbal. Saat itu, Munahir ditanya apakah pernah menunaikan umrah. Ia menjawab belum pernah, bahkan ini adalah pertama kalinya ia berada di Kantor Gubernur NTB.

“Pak Gubernur terharu dan langsung mengatakan saya umrahkan Bapak Januari. Dia juga berterima kasih atas pengabdian panjang saya di sekolah,” ujarnya.

34 Tahun Berjuang untuk Keluarga dan Sekolah

Munahir memulai karier sebagai petugas jaga malam pada 1990, saat SMKN 1 Dompu masih bernama Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA). Setelah lima tahun, ia diangkat sebagai satpam sesuai kebutuhan sekolah.

“Saya tidak pandang besar kecilnya gaji, saya ikhlas bekerja untuk sekolah ini,” katanya. Ia mengaku selama bertugas, penghasilan menjadi nomor kedua dibanding kesempatan bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Selama 34 tahun, Munahir melewati banyak suka dan duka. Di sela tugas, ia kerap melakukan kerja serabutan untuk menambah penghasilan. Buah dari kerja kerasnya, dua anaknya berhasil menempuh pendidikan tinggi dan kini menjadi guru di Bima dan Dompu. “Satu orang masih sekolah di SMK Pariwisata, dan satu orang lagi sudah meninggal dunia,” ungkapnya.

Baca Juga  Jawaban: Susun Rencana Aksi dan Pembelajaran untuk Ali, Cerita Reflektif PPG 2025

Sebelum diangkat sebagai PPPK Paruh Waktu, Munahir menerima gaji Rp1,8 juta per bulan dari sekolah. Setelah pengangkatan, gaji dari Pemprov NTB menjadi Rp500.000 per bulan. Meski demikian, ia tetap ikhlas dan menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati.

“Kita tetap ikhlas dan tugas-tugas pokok dari sekolah tetap saya laksanakan, mudah-mudahan nanti ada kebijakan diangkat PPPK Penuh Waktu,” harapnya.

Kehidupan Sehari-hari dan Harapan Masa Depan

Meskipun gajinya turun, Munahir tetap menjalani tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ia menjaga kebersihan lingkungan sekolah, mengawasi keamanan, serta membantu siswa jika diperlukan.

“Jika ada yang membutuhkan bantuan, saya siap membantu. Saya merasa bahwa tugas ini adalah bagian dari pengabdian saya kepada sekolah,” ujarnya.

Ia juga berharap agar kebijakan pemerintah bisa lebih adil terhadap para tenaga non-pegawai yang telah lama bekerja.

“Semoga ada kebijakan yang bisa memberikan hak-hak yang sama bagi kami yang sudah lama bekerja, meskipun dalam status paruh waktu,” tambahnya.

Kesimpulan

Munahir adalah contoh nyata dari kesetiaan dan keikhlasan dalam bekerja. Meskipun gajinya turun, ia tetap menjalankan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab. Pengangkatannya sebagai PPPK Paruh Waktu menjadi bentuk pengakuan atas dedikasinya selama 34 tahun.

Harapan besar ia letakkan pada masa depan, di mana ia berharap bisa diangkat sebagai PPPK Penuh Waktu. Dengan semangat dan tekadnya, Munahir terus berjuang untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik bagi dirinya sendiri dan rekan-rekannya.


unnamed Munahir, Satpam SMKN 1 Dompu Jadi PPPK Paruh Waktu dan Dapat Umrah