Opini: Mengenal Dana Keanekaragaman Hayati Indonesia (I-Bio Fund)

Potensi Biodiversitas Indonesia yang Luar Biasa

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas terbesar di dunia. Berdasarkan data dari Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025-2045, Indonesia memiliki 22 tipe ekosistem yang tersebar secara beragam mulai dari darat hingga laut. Populasi spesies di Indonesia mencakup 9,7% tumbuhan berbunga, 15% mamalia, 9% reptil, 6% amfibi, 17% burung, serta 9% ikan tawar dunia.

Selain itu, Indonesia juga menjadi bagian dari Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), tempat tinggal 16,60% ikan laut, 28,90% mamalia laut, 56,00% reptil dan 10,00% karang dunia. Dengan jumlah dan keragaman jenis yang begitu melimpah, potensi biodiversitas Indonesia sangat besar dan bisa menjadi sumber daya penting bagi berbagai sektor industri.

Strategi Pemerintah dalam Mengembangkan Biodiversitas

Pengembangan biodiversitas Indonesia dapat dikaitkan dengan strategi pemerintah saat ini yang memprioritaskan pengembangan industri pangan, obat-obatan, energi, dan material lainnya. Hal ini selaras dengan kondisi dunia yang sedang menghadapi triple planetary crisis, yaitu krisis iklim, krisis energi, dan krisis pangan.

Dengan potensi yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin dunia dalam pengembangan industri biodiversitas jika seluruh potensi dapat dioptimalkan sebaik-baiknya.

Kebutuhan Dana untuk Konservasi Biodiversitas

Salah satu upaya utama dalam mengembangkan biodiversitas adalah pengembangan strategi pembiayaan konservasi. Bappenas menyebutkan bahwa kebutuhan biaya pengelolaan biodiversitas Indonesia per tahunnya mencapai kisaran Rp70 hingga 75 triliun. Namun, hingga saat ini, pendanaan yang ada masih didominasi oleh pendanaan publik, terutama APBN, serta beberapa bagian sudah mulai mendapatkan dukungan dari lembaga pendanaan multilateral seperti Global Environment Facility (GEF).

Namun, alokasi pendanaan setiap tahunnya tidak lebih dari Rp10 triliun per tahun. Dengan demikian, celah kesenjangan yang terwujud masih relatif sangat besar dan mustahil akan tercapai jika metode yang digunakan masih bersifat apa adanya (Business As Usual/BAU).

Baca Juga  Hanya Tikus Ini yang Bisa Mengaum Seperti Serigala

Luncuran I-Bio Fund sebagai Platform Pendanaan Biodiversitas

Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) bersama Kementerian Kehutanan (Kemenhut) didukung oleh Wildlife Conservation Society (WCS) meluncurkan platform pengelolaan dana biodiversitas Indonesia yang dikenal sebagai Indonesian Biodiversity Fund (I-Bio Fund).

I-Bio Fund adalah platform pembiayaan biodiversitas yang bersifat campuran, baik dari dana publik maupun dana swasta termasuk internasional. Jenis ragam dana yang dapat dikelola dalam I-Bio Fund meliputi APBN/APBD, kemudian internasional melalui lembaga multilateral, bilateral, serta filantropis. Dana tanggung jawab sosial lingkungan perusahaan (TJSL) juga memungkinkan untuk digandeng demi terciptanya ekosistem pendanaan dan pembiayaan yang berdampak.

Tujuan dan Program yang Diterapkan dalam I-Bio Fund

Dalam dokumen strategi bisnis I-Bio Fund, terdapat tiga hasil utama yang akan diciptakan, yaitu: 1) kelestarian ekosistem, spesies dan genetik; 2) pemanfaatan biodiversitas berkelanjutan; serta 3) tata kelola biodiversitas yang lebih kuat. Dari ketiga hasil utama tersebut, kemudian diterjemahkan ke dalam dua puluh program yang mencakup integrasi ekosistem, perlindungan ekosistem, penurunan jenis asing invasif, pengurangan pencemaran, budidaya berkelanjutan, nilai jasa ekosistem, pengayaan IPTEK, integrasi data, partisipasi masyarakat, keterlibatan swasta, daya dukung finansial serta reformasi insentif.

Partisipasi Seluruh Stakeholder dalam I-Bio Fund

Sebagai sebuah platform pendanaan, I-Bio Fund berharap adanya partisipasi seluruh pemangku kepentingan yang ingin berkontribusi dalam mendukung perkembangan pembiayaan biodiversitas di Indonesia. Dana publik tentu menjadi tulang punggung utama, namun juga mencoba menghadirkan partisipasi dana-dana global multilateral dan bilateral, korporasi, filantropis dan foundation.

Pendekatan yang digunakan adalah mekanisme pembiayaan berdampak, di mana kolaborasi multi aktor akan mendorong pencapaian tujuan pembiayaan yang lebih dari sekadar pendanaan.

Baca Juga  5 Fakta Menarik Rhipicera femorata, Kumbang Berantena Kipas Australia

Siapa yang Bisa Mengakses I-Bio Fund?

Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, LSM dan organisasi masyarakat, universitas beserta lembaga penelitiannya serta badan usaha yang fokus kepada pemanfaatan biodiversitas adalah para pihak yang dianggap eligible memperoleh manfaat dari platform I-Bio Fund. Melalui distribusi manfaat I-Bio Fund kepada seluruh kategori penerima manfaat yang beragam, tentu diharapkan dapat menjadi stimulus bagi pihak-pihak tersebut untuk mendorong lahirnya pengusaha baru industri berkelanjutan berbasis pemanfaatan biodiversitas.

Pengembangan Skema Pembiayaan Inovatif

Selain pemanfaatan dana melalui I-Bio Fund, hal yang urgent untuk dipikirkan adalah bagaimana pengembangan skema pembiayaan inovatif lainnya dapat dimunculkan dari platform tersebut. Potensi pembentukan dana abadi biodiversitas menjadi opsi prioritas meski membutuhkan prosedural birokrasi yang lebih panjang.

Tidak ketinggalan model-model skema inovatif lainnya seperti pengalihan utang (debt nature swap), bagi hasil perdagangan karbon, pengembangan bio crediting dan bio economy, ecologycal fiscal transfer maupun payment ecosystem services.

Jika seluruh modalitas dapat diwujudkan, I-Bio Fund nantinya akan tercatat sebagai salah satu milestone pemerintah dalam mewujudkan perekonomian yang kuat dan mandiri berbasis hasil usaha pemanfaatan biodiversitas berkelanjutan. Semoga !!!!

unnamed Opini: Mengenal Dana Keanekaragaman Hayati Indonesia (I-Bio Fund)