Mengenal Ciri Pengunjung Poli Gangguan Gerak dan Neurobehavioral
Tugas di Ruang Assessment
Pada hari itu, saya bertugas di ruang Assessment. Di sini, pasien yang telah terdaftar akan diperiksa kondisi fisiknya, mulai dari kesadaran, keluhan yang dirasakan hingga tanda-tanda vital. Jika ada indikasi pasien mengalami kambuh kegawatdaruratan, perawat di ruang ini dapat segera melakukan mitigasi. Misalnya, jika ada pasien dengan riwayat epilepsi yang merasa aura kejang sejak pagi, maka perawat bisa langsung membawa pasien ke poli tindakan untuk observasi dan pemberian oksigen. Setelah itu, dokter rawat jalan akan meninjau kondisi pasien dan menentukan tindak lanjut penanganan.
Jika pasien tidak mampu datang ke ruang dokter, dokter akan datang langsung untuk melihat kondisi pasien. Hal ini sangat penting dalam memastikan pasien mendapatkan perawatan yang tepat dan cepat.
Poli Neurobehaviour dan Movement Disorder
Hari itu, saya bertugas di ruang Assessment 2, yang menangani beberapa poli khusus. Salah satunya adalah poli Neurobehaviour atau neurogeriatri serta poli Movement Disorder. Meskipun tidak semua pasien di kedua poli ini adalah lansia, sebagian besar kasusnya memang melibatkan pasien lansia.
Poli Neurobehaviour adalah poli syaraf yang menangani gangguan perilaku akibat gangguan saraf seperti demensia atau parkinson. Sementara itu, poli Movement Disorder fokus pada gangguan pergerakan yang sulit dikendalikan, seperti tremor, HFS (hiperkinetik facial spasm), dan gangguan lain yang menyebabkan otot wajah berkedut tanpa sadar.
Kondisi Pasien Parkinson
Salah satu pasien yang datang hari itu adalah seorang bapak yang didampingi oleh istrinya. Langkahnya pendek-pendek dan cepat, khas bagi penderita Parkinson. Penyakit ini mengganggu neurotransmitter dopamin di otak, yang mengontrol gerakan, sehingga menyebabkan bradikinesia (gerakan lambat), otot kaku, dan masalah keseimbangan. Akibatnya, tubuh mengambil langkah-langkah kecil dan cepat untuk menjaga keseimbangan dan menghindari jatuh.
Beberapa ciri-ciri utama pasien Parkinson antara lain:
- Masalah Keseimbangan: Otak kesulitan menjaga keseimbangan, tubuh condong ke depan, dan mengambil langkah pendek untuk menjaga pusat gravitasi tetap stabil.
- Otot Kaku & Kekakuan: Kekakuan otot membuat gerakan awal sulit, menyebabkan langkah tidak terangkat baik (kaki cenderung menyeret atau menapak rata).
- Festinasi (Gaya Berjalan “Berlari”): Langkah-langkah pendek dan cepat yang terjadi saat tubuh berusaha “mengejar” keseimbangan yang hilang.
- Kurang Fleksi Sendi: Gerakan menekuk lutut, pergelangan kaki, dan panggul berkurang, membuat gaya berjalan tidak efisien.
- Postur Membungkuk: Kurangnya ayunan lengan saat berjalan dan kesulitan memulai gerakan atau memutar tubuh.
- Kaki seperti “Menempel” di Lantai (Freezing of Gait): Kondisi ini membuat pasien takut melangkah karena merasa kaki membeku di lantai.
Tantangan dalam Pelayanan Pasien Lansia
Banyak pasien di kedua poli ini tampak gelisah atau jalan sendirian, sehingga membutuhkan pendampingan keluarga. Beberapa juga kesulitan mengungkapkan kata-kata, dengan ucapan yang berulang-ulang. Saat saya bertanya kepada salah satu pasien, ia hanya menjawab dengan kalimat “Badan saya sakit… terasa berat saat bangun. Sakit. Terasa berat. Berat. Sakit badan. Sakit…” Keluarga kemudian menjelaskan lebih lanjut tentang keluhan pasien.
Dokter, perawat, dan tim pendaftaran harus hati-hati dalam menjelaskan hal-hal kepada pasien di kedua poli ini. Karena sebagian besar pasien adalah lansia, banyak dari mereka memiliki gangguan pendengaran atau ingatan yang menurun. Untuk menangani hal ini, perawat biasanya menggunakan cara sabar dan memberikan edukasi dengan catatan di kartu kontrol agar pasien bisa membacanya sendiri.
Perawatan yang Sesuai dengan Kebutuhan Pasien
Setiap pasien memiliki kekhususan masing-masing. Sebagai perawat, tugas utama adalah memfasilitasi pasien sebaik-baiknya, termasuk memastikan mereka mendaftar sesuai jam dan urutan, bertemu dokter tanpa merasa terburu-buru, serta mendapatkan arahan yang jelas tentang tata laksana dan kontrol selanjutnya.
Pasien dengan gangguan saraf memiliki berbagai macam aktivitas yang berbeda, namun perawat harus bisa memahami dan memaklumi pergerakan yang tidak bisa dikendalikan oleh pasien. Dengan demikian, pasien merasa aman dan nyaman saat kontrol ke poli rawat jalan rumah sakit.
Kesimpulan
Penyakit yang menyerang sistem saraf memiliki berbagai bentuk dan dampak yang berbeda-beda. Ada yang tidak mematikan namun sangat mengganggu, seperti gerakan involunter, spasmofilia, tremor, atau kedutan akibat Trigeminal Neuralgia. Penanganannya bisa dilakukan dengan obat atau bahkan operasi, tergantung analisis dokter. Semua rencana dan tindakan dilakukan oleh dokter bedah saraf.
Sebagai perawat, tugas kami adalah memastikan setiap pasien menerima layanan terbaik, dengan perhatian yang cukup terhadap kebutuhan khusus mereka. Bagi keluarga yang memiliki keluhan serupa, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf untuk penanganan yang tepat.
- At 100, He Was Still Running Marathons — What Fauja Singh Taught the World About Aging - February 9, 2026
- McDonald’s mengumumkan kembalinya Boo Buckets Happy Meal® – dengan dua teman ghoulie baru - February 9, 2026
- Pemulihan Pasca Banjir, Warga Pati Dapat Pengobatan Gratis dan Bantuan Sembako dari TNI AL - February 9, 2026




Leave a Reply