Kemenag Siapkan Tempat Ibadah untuk Ruang Darurat Pendidikan
Kementerian Agama telah menyiapkan rumah ibadah sebagai ruang darurat untuk pendidikan dan pemulihan sosial bagi masyarakat yang terdampak bencana di Sumatera. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan agar aktivitas belajar anak tidak terhenti selama situasi kebencanaan.
Menurutnya, kemudahan dalam mengambil tindakan cepat berkat struktur Kementerian Agama yang bersifat vertikal hingga tingkat kecamatan. Dengan demikian, data antara daerah dan pusat menjadi simetris. “Ini memudahkan kami bergerak cepat,” ujar Nasaruddin saat berbicara di Jakarta, Sabtu, 3 Januari 2026.
Selain itu, Kementerian Agama juga telah melakukan pendataan terhadap sarana dan prasarana pendidikan yang terdampak serta melakukan upaya mitigasi penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar pada 5 Januari 2026.
“Kementerian Agama mendata berapa madrasah yang terdampak, berapa rumah ibadah yang terdampak, mana yang sudah bisa digunakan dan mana yang belum. Yang belum bisa dimanfaatkan itu kami carikan jalan keluarnya. Data yang kami miliki juga selaras dengan data Badan Pusat Statistik,” ujarnya.
Nasaruddin menjelaskan bahwa rumah ibadah, termasuk masjid, dapat dipergunakan sebagai tempat darurat penyelenggaraan pendidikan. “Agar anak-anak tidak kehilangan hak belajarnya. Perhatian pemerintah, terutama Presiden, sangat besar pada dunia pendidikan. Yang penting anak-anak tidak terdampak lebih jauh,” ujarnya.
Bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda tiga provinsi sekaligus pada penghujung November 2025 lalu. Bencana tersebut meluas di 52 kabupaten/kota yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Per Sabtu pagi, 3 Januari 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 1.157 jiwa tewas dan 165 lainnya masih hilang akibat bencana ekologis tersebut. Sementara ratusan ribu warga di ketiga provinsi tercatat masih mengungsi.
BNPB juga melaporkan bahwa bencana banjir dan longsor Sumatera mengakibatkan kerusakan sebanyak 178.479 unit rumah, 3.188 fasilitas pendidikan, 803 rumah ibadah, 215 fasilitas kesehatan, hingga terputusnya 81 jalan dan 34 jembatan.
Hingga kini, pemerintah masih melakukan upaya penanganan dan pemulihan pasca-bencana. Menteri Agama Nasaruddin menyampaikan percepatan pemulihan dilakukan dengan kerja sama intensif antara aparat dan masyarakat selama 24 jam. “Infrastruktur yang diperkirakan selesai satu semester, dalam praktiknya bisa diselesaikan dalam hitungan minggu. Ini hasil kerja bersama tentara, polisi, dan masyarakat,” kata Nasaruddin.
Dalam upaya penanganan bencana Sumatera, menurut dia, Kementerian Agama tidak hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Kementerian juga melibatkan lembaga filantropi dan organisasi masyarakat seperti Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), LAZ (Lembaga Amil Zakat), BWI (Badan Wakaf Indonesia). “Rumah ibadah lintas agama, seperti masjid, gereja, dan pura, kami upayakan bisa segera dipakai kembali. Di Sumatera Barat, tinggal sangat sedikit yang belum dapat digunakan,” tutur Nasaruddin.
- Link Resmi GTK 2026 Terbaru dan Cara Mengatasi Error Login - January 17, 2026
- Ikatan Kimia: Gaya yang Menyatukan Atom - January 17, 2026
- Menteri Kesehatan: H3N2 Tidak Seberbahaya Seperti COVID-19 - January 17, 2026




Leave a Reply