KH Amal Fathullah, Sang Pejuang Pendidikan Pesantren
Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi: Seorang Pemimpin yang Mengukir Sejarah Pesantren
Jutaan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor sedang berduka. Puluhan ribu santri, ratusan dzurriyyah pendiri, dan jutaan alumnus pesantren berbasis wakaf itu menundukkan kepala, menahan air mata. Duka itu tidak berhenti di pagar Gontor. Ia menjalar ke seluruh penjuru negeri, ke pesantren-pesantren yang pernah disentuh gagasan dan keteladanan. Sebab, telah berpulang seorang bapak yang mengayomi dengan keteguhan dan kesenyapan: Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi.
“Inna lillah wa inna ilayhi rajiun telah berpulang ke Rahmatullah Prof. Dr. KH Amal Fathullah Zarkasyi, pada jam 12.14, di RS Moewardi Solo. Semoga Allah mengampuni dosanya, menerima amal ibadahnya, dan memberinya husnul khatimah,” tulis Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi kepada Bisakimia, Sabtu (3/1/2026). Sebuah kabar yang datang lirih, namun menghentak batin banyak orang.
Perjalanan Kepemimpinan yang Bersejarah
Prof. Amal merupakan pemimpin Pondok Modern Darussalam Gontor periode kelima. Periode pertama diemban oleh Trimurti pendiri: KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi. Periode kedua oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan Abdullah Sahal, dan KH Shoiman Lukmanul Hakim. Periode ketiga oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan Abdullah Sahal, dan KH Imam Badri. Periode keempat oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Hasan A. Sahal, dan KH Syamsul Hadi Abdan. Periode kelima, hingga kini, oleh KH Hasan Abdullah Sahal, Prof. KH Amal Fathullah Zarkasyi, dan KH Akrim Mariyat. Sebuah estafet panjang yang dijaga dengan amanah.
Almarhum adalah kiai yang berdiri di garda depan memperjuangkan pesantren di hadapan negara. Pada masa ketika pesantren dipaksa beradaptasi dengan sistem madrasah dan sekolah umum demi pengakuan ijazah, KH Amal justru meluruskan arah: bukan pesantren yang harus kehilangan jati diri, melainkan negara yang perlu mengakui kekhasan pendidikan pesantren, baik salaf maupun khalaf.
Pada awal 2000-an, perjuangan almarhum bersama sang abang, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, mulai berbuah. Melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Agama, sistem pendidikan Gontor dan sejumlah pesantren akhirnya diakui negara. Sejak saat itu, alumni Gontor tidak lagi harus menempuh ujian penyetaraan atau paket demi melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

KH Prof.Dr.Amal Fathullah Zarkasyi Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor saat sesi foto untuk Bisakimiadi Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (25/6). – (Fakhri Hermansyah)
Perjuangan untuk Pengakuan Negara
Namun waktu bergerak, dan tantangan berubah. Surat keputusan menteri tak lagi cukup menjadi jangkar pengakuan negara terhadap pesantren. Maka bersama ribuan kiai dan ulama lintas pesantren dan latar belakang, KH Amal mendorong lahirnya payung hukum yang lebih kokoh: undang-undang pesantren.
Pada 2018, undang-undang tentang pesantren akhirnya disahkan. Setelah 73 tahun Indonesia merdeka, negara ini untuk pertama kalinya memiliki undang-undang pesantren. Sebuah tonggak yang lahir dari kesabaran panjang dan ikhtiar kolektif para kiai, dengan KH Amal sebagai salah satu penggeraknya.
Awal Kehidupan yang Tidak Mudah
Buah cinta keempat pasangan KH Imam Zarkasyi dan Siti Partiyah itu tumbuh di lingkungan Pondok Modern Darussalam Gontor. “Keras, disiplin, ulet, dan sederhana,” tulis Prof. Amal dalam Biografi KH Imam Zarkasyi terbitan 1996, menggambarkan suasana yang membentuk wataknya sejak dini.
Amal menempuh pendidikan di KMI Gontor dan Institut Pendidikan Darussalam (IPD), yang kemudian bertransformasi menjadi ISID dan kini UNIDA. Pada 1957, KH Imam Zarkasyi mengunjungi sejumlah lembaga pendidikan di Mesir, seperti Darul Ulum, dan bertemu Menteri Pendidikan Mesir. Dari kunjungan itulah terbuka peluang mu‘adalah KMI, sehingga lulusan KMI dapat melanjutkan studi ke Mesir tanpa ujian persamaan SMA.
Berangkatlah sejumlah kader Gontor, Ust. Dhomiri Fadhil, Ust. Muhammad Ghufron, dan Ust. Imam Subakir yang kelak menjadi rektor ISID. Mereka belajar di Mesir, lalu kembali ke Gontor dengan kemampuan bahasa Arab yang matang, yang kemudian mewarnai kualitas kebahasaan santri-santri Gontor hingga kini.

Rektor Unida Gontor Prof Amal Fathullah Zarkasyi memberikan kenang-kenangan kepada Pakar Bahasa Arab dari Polandia, Prof Barbara Michalak-Pikulska di Kompleks Unida Jawa Timur, Senin (10/7). – (dok: Universitas Darussalam Gontor)
Perjalanan Menuju Penyetaraan Gelar
Pada 1972, Pak Zar kembali ke Mesir untuk menghadiri Muktamar Majma‘ al-Buhuts al-Islamiyah di Universitas Al-Azhar. Putra bungsu KH Santoso Anom Besari dan Nyai Sudarmi itu berikhtiar menyetarakan sarjana muda IPD dengan gelar Lc Mesir. Upaya itu belum berhasil.
Pak Zar tidak menyerah. Amal Fathullah kemudian dikirim ke Mesir. “Atas izin Bapak dan Mas Syukri saya ke Mesir,” tulis Amal mengenang. Di sana, Amal tidak hanya belajar. Ia mengurus penyetaraan sarjana muda IPD dengan gelar Lc di sejumlah perguruan tinggi Mesir, seperti Darul Ulum dan Al-Azhar. Ia berhasil. Dua tujuan dicapai dalam satu perjalanan.
“Atas keberhasilan itu, Bapak mengirimkan surat kepada saya,” tulis Amal. Isinya menyentuh: kini orang berkata Amal di Mesir bukan hanya sekolah, tetapi memperjuangkan IPD. Keberhasilan itu disebut sebagai monumen sejarah IPD yang akan dikenang ratusan tahun ke depan.
Sebagai tanda syukur, Pak Zar menyembelih dua ekor lembu: satu untuk Amal, satu untuk Nasrulloh yang diterima kuliah di UGM. Namun syukur sejati, kata Pak Zar, adalah shalat sunnah 400 rakaat. Sebuah metafora tentang kerja sunyi yang diserahkan sepenuhnya kepada Allah.
Perjalanan Karier yang Penuh Dedikasi
Sepulang dari Mesir, Amal kembali ke Gontor. Ia pernah menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin, pembantu rektor, hingga akhirnya menjadi rektor. Setiap jabatan dijalani sebagai ladang pengabdian, bukan panggung kehormatan.
Perjuangannya pun melampaui tembok Gontor. Amal memperjuangkan penyetaraan pendidikan pesantren secara luas, salaf maupun khalaf. Kini, pesantren diakui negara. Alumninya melangkah lebih jauh, memberi manfaat lebih luas.
Pak Amal telah mendahului kita semua. Ia pergi seperti matahari yang tenggelam di ufuk senja, namun sinarnya masih menetap di langit peradaban pesantren. Legasi yang ditinggalkannya bukan sekadar kebijakan atau jabatan, melainkan arah dan harapan bagi pendidikan Islam Indonesia.
- Soal dan Pembahasan Lengkap: Konfigurasi Elektron - January 14, 2026
- Henry Cavill Kembali ke Gym Setelah Cedera ‘Highlander’ - January 13, 2026
- SMA Taruna Nusantara Dapat Motivasi Kepemimpinan dari Lampung - January 13, 2026




Leave a Reply