Kemendikdasmen Perkuat Program MBG dengan Enam Modul Edukasi Gizi

Peluncuran Enam Modul Strategis untuk Program Makan Bergizi Gratis

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan enam modul strategis yang bertujuan memperkuat implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di satuan pendidikan. Peluncuran ini dilakukan di Jakarta, dan menjadi momen penting dalam upaya memastikan MBG tidak hanya berfokus pada distribusi makanan, tetapi juga menjadi intervensi pendidikan yang komprehensif.

Modul-modul ini dirancang sebagai rujukan nasional bagi sekolah, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan untuk menjalankan MBG secara terstandar, efektif, dan berkelanjutan. Acara peluncuran dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), perwakilan Badan Gizi Nasional, Kementerian PPN/Bappenas, UNICEF Indonesia, serta pemangku kepentingan lintas kementerian dan lembaga.

Peran Penting Program MBG

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa Program MBG memiliki peranan penting dalam membangun masa depan bangsa. Ia menekankan bahwa MBG bukan sekadar upaya pemenuhan nutrisi, tetapi juga instrumen untuk menanamkan budaya hidup sehat sejak dini di lingkungan satuan pendidikan.

“Keterpenuhan gizi yang baik dan lingkungan sekolah yang sehat bisa memenuhi syarat standar nasional pendidikan, meningkatkan mutu pendidikan, dan meningkatkan mutu pembelajaran. Program kolosal Bapak Presiden Prabowo ini akan punya dampak yang signifikan di masa depan. Yang kita perlu lakukan adalah keberlanjutan dan kesabaran untuk mengawal program prioritas ini berlangsung dalam jangka yang cukup panjang,” jelasnya.

Tantangan Gizi Anak Indonesia

Modul dan pedoman ini disusun sebagai respons terhadap kondisi gizi anak Indonesia yang masih menjadi tantangan. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 1 dari 5 anak usia 5-12 tahun bertubuh pendek, 1 dari 10 tergolong kurus, dan 1 dari 5 mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Pada kelompok remaja usia 13-18 tahun, kondisi serupa terlihat dengan 1 dari 4 remaja bertubuh pendek, 1 dari 12 tergolong kurus, dan 1 dari 6 mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Baca Juga  Festival Literasi Sulbar 2025: Gubernur Tekankan Literasi sebagai Fondasi Pembangunan Daerah

Anemia juga masih menjadi masalah kesehatan signifikan dengan prevalensi 16,3 persen pada anak usia 5-14 tahun dan 15,5 persen pada kelompok usia 15-24 tahun.

Langkah Strategis dalam Implementasi MBG

Peluncuran ini menandai langkah strategis dalam mengintegrasikan edukasi gizi dengan program MBG yang telah ditetapkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025-2029. Program MBG menargetkan sekitar 82,9 juta penerima manfaat, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta peserta didik dari jenjang PAUD hingga SMA, dengan hampir 2/3 sasaran atau sekitar 50 juta lebih adalah para siswa di satuan pendidikan.

Tiga Pilar Utama Kesuksesan Program

Kunci kesuksesan program terletak pada tiga pilar utama. Pertama, penyediaan makanan bergizi yang memenuhi standar gizi dan keamanan pangan. Kedua, edukasi gizi yang menarik, interaktif, dan mudah dipahami peserta didik. Ketiga, perbaikan lingkungan pangan sekolah melalui kantin sehat. Ketiga pilar ini saling menguatkan untuk menciptakan perubahan perilaku konsumsi yang berkelanjutan, tidak hanya di sekolah tetapi juga di rumah.

Peran Pendidikan dalam Menghadapi Tantangan Gizi

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menjelaskan penyusunan modul dilakukan untuk memperkuat peran pendidikan dalam menghadapi tantangan gizi pada anak dan remaja, yang selama ini menghambat potensi belajar mereka.

“Pendidikan dan gizi adalah dua pilar bagi pembangunan bangsa yang saling menguatkan. Anak-anak dengan status gizi yang optimal akan memiliki kemampuan kognitif, fokus belajar dan daya tahan tubuh yang lebih baik sehingga siap menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan secara optimal. Intervensi gizi tidak dapat hanya mengandalkan rumah dan fasilitas kesehatan, sekolah harus menjadi pusat perubahan perilaku makan sehat,” ujar Gogot.

Baca Juga  Disdikbud Balikpapan Sediakan Rp 3 Miliar Bantuan Laptop untuk Seluruh SKB Kota Minyak

Sasaran Program dan Dokumen Pendukung

Terkait sasaran program, Gogot memaparkan bahwa Kemendikdasmen merupakan penerima manfaat terbesar dari program MBG dengan jumlah siswa kurang lebih 53 juta untuk semua jenjang PAUD, SD, SMP, SMA sampai dengan jenjang nonformal.

Enam dokumen pendukung implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) disiapkan untuk memastikan satuan pendidikan memahami tata kelola program secara utuh. Dokumen pertama adalah Modul Pelatihan Implementasi MBG di Satuan Pendidikan, yang berisi panduan teknis menyangkut tata kelola, mekanisme distribusi, pemantauan harian, hingga pelaporan. Modul ini menjadi acuan utama bagi sekolah dan pemangku kepentingan agar pelaksanaan MBG berjalan tertib, tepat sasaran, dan akuntabel.

Selanjutnya, tersedia empat modul edukasi gizi yang disusun sesuai tahap perkembangan peserta didik. Modul Edukasi Gizi PAUD memberikan pengenalan gizi yang ramah dan sesuai karakter anak usia dini. Sementara Modul Edukasi Gizi SD memperkuat kesadaran makan sehat bagi siswa sekolah dasar. Untuk jenjang berikutnya, Modul Edukasi Gizi SMP dirancang menumbuhkan kebiasaan sehat pada masa remaja awal, dan Modul Edukasi Gizi SMA menghadirkan materi gizi yang lebih komprehensif, mendorong remaja menjadi agen perubahan dalam lingkungan sebayanya.


unnamed Kemendikdasmen Perkuat Program MBG dengan Enam Modul Edukasi Gizi