Kenali Leptospirosis, Penyakit yang Sering Muncul Saat Banjir
Penyakit Leptospirosis dan Dampaknya Saat Banjir
Banjir, terutama banjir bandang, memang memiliki dampak yang sangat merusak. Banyak bangunan, rumah, serta infrastruktur hancur akibat air yang meluap. Hal ini menyebabkan warga terisolasi dan menghadapi berbagai masalah kesehatan. Salah satu penyakit yang sering muncul setelah banjir adalah leptospirosis.
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis yang menular dari hewan ke manusia. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri Leptospira. Menurut informasi yang tersedia, saat hewan yang terinfeksi buang air kecil, urinnya akan mengkontaminasi tanah atau air. Jika manusia menyentuh tanah atau air yang terkontaminasi, bakteri ini bisa masuk ke tubuh melalui kulit yang terluka atau organ pernapasan seperti hidung dan mulut. Bakteri ini juga bisa menyebar melalui cairan tubuh seperti air mani atau ASI. Namun, penularan antar manusia jarang terjadi karena cara penyebarannya yang terbatas.
Orang yang tinggal di daerah tropis lebih rentan terkena leptospirosis.
Wilayah dengan curah hujan tinggi seperti Karibia, Oseania, Asia Tenggara, Asia Selatan, dan negara-negara di Sub Sahara memiliki risiko lebih tinggi. Selain itu, orang-orang yang memiliki kontak langsung dengan tanah atau hewan, seperti petani, peternak, pekerja tambang, dan dokter hewan, juga lebih rentan. Bencana banjir dan badai meningkatkan risiko karena akses air bersih terbatas, sehingga korban terpaksa menggunakan air kotor.
Gejala leptospirosis sering kali mirip dengan flu biasa.
Setiap tahun, sekitar 1 juta kasus leptospirosis terjadi di seluruh dunia, dengan angka kematian mencapai 60.000 jiwa. Kebanyakan kasus merupakan kasus ringan dengan gejala seperti demam, batuk, diare, muntah, sakit kepala, nyeri otot, ruam, mata merah, dan penyakit kuning. Mayoritas penderita dapat pulih dalam waktu seminggu. Namun, sekitar 10 persen kasus dapat berkembang menjadi penyakit berbahaya yang mengancam nyawa. Gejala parah meliputi kelelahan, detak jantung tidak teratur, mual, mimisan, nyeri dada, pembengkakan di tangan dan kaki, serta penyakit kuning. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan gagal ginjal dan kematian.
Cara Mencegah Leptospirosis
Mencegah leptospirosis sebenarnya tidak sulit.
Bakteri ini bisa dihindari dengan menjaga kebersihan diri. Jika memiliki hewan ternak atau peliharaan, pastikan untuk melakukan vaksinasi lengkap agar mereka terhindar dari penyakit. Di negara maju, hewan ternak sudah divaksinasi, sedangkan di negara berkembang, vaksinasi biasanya tidak merata, sehingga risiko penularan lebih tinggi.
Selain hewan ternak, waspadai hewan pengerat seperti tikus yang menjadi pembawa utama bakteri Leptospira. Hindari aktivitas yang berhubungan dengan air kotor, seperti aliran banjir, sungai, atau danau. Jika harus melakukan aktivitas tersebut, gunakan pakaian dan sepatu pelindung, lalu bersihkan diri dengan mandi dan mencuci tangan segera setelahnya.
Meski kebanyakan kasus leptospirosis ringan, kita tidak boleh menyepelekannya. Terutama di musim hujan, di mana bakteri ini bisa menyebar lebih mudah. Jangan ragu untuk memeriksakan diri ke klinik atau rumah sakit terdekat jika merasa sakit atau mengalami gejala-gejala yang mengarah ke leptospirosis.
- Panduan Lengkap Top 3 PTN di Pulau Sumatera – USU, Unand, Unsyiah - January 2, 2026
- Fokus Keluarga: Dokter Louisiana melawan stigma HIV dengan pemeriksaan dan dukungan - January 2, 2026
- Kenali Leptospirosis, Penyakit yang Sering Muncul Saat Banjir - January 1, 2026




Leave a Reply