Anak Sekolah dan Krisis Rendah Diri yang Sering Diabaikan

Anak yang Mulai Menunduk: Kehilangan Rasa Percaya Diri

Di sebuah sekolah dasar negeri di pinggiran kota, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun duduk dengan wajah murung di meja kelasnya. Namanya Raka. Nilai matematikanya menurun, buku gambarnya kosong, dan ia mulai menolak ikut kegiatan pramuka—padahal dulu ia yang paling ceria. Ketika gurunya bertanya, jawabannya pelan: “Saya nggak bisa apa-apa, Bu.”

Kisah Raka bukanlah cerita tunggal. Ia adalah potret kecil dari ribuan anak di Indonesia yang sedang memasuki tahap perkembangan penting menurut Erik Erikson: Industry vs Inferiority, masa ketika anak membangun rasa “aku mampu” atau justru terjatuh dalam jurang rasa rendah diri.

Usia Sekolah: Masa Anak Membangun Kompetensi

Psikolog perkembangan Erik Erikson menyebut usia 6–12 tahun sebagai fase Industry vs Inferiority, yaitu periode ketika anak belajar:
– merasa mampu, produktif, dan berhasil, atau
– merasa tidak mampu, kurang berharga, dan lebih rendah dibanding teman sebaya.

Di tahap ini, anak mulai menilai dirinya bukan hanya dari keluarga, tetapi juga berdasarkan penilaian sosial—sekolah, teman, tugas, dan aturan. Anak yang berhasil melewati fase ini mengembangkan:
– rasa percaya diri pada kemampuan
– motivasi untuk mencoba hal baru
– toleransi terhadap kegagalan
– kemampuan menyelesaikan tugas

Sebaliknya, kegagalan dapat memicu:
– menarik diri
– mudah menyerah
– merasa tidak kompeten
– kecemasan performa di sekolah
– munculnya masalah perilaku

“Raka dan Tugas yang Tak Pernah Selesai”

Raka awalnya anak yang aktif dan suka bertanya. Namun setelah pindah sekolah, ia mulai kesulitan mengikuti pelajaran. Dalam beberapa minggu:
– Ia sering menutupi bukunya saat guru mendekat.
– Ia menolak ikut lomba menggambar yang dulu ia gemari.
– Ia berkata “teman-teman lebih pintar dari aku.”

Baca Juga  Soal IPS Pilihan Ganda dan Essay + Kunci Jawaban UH-STP SMP Kelas 8 Semester 2 2026

Guru BK menemukan bahwa Raka sering dibandingkan oleh ayahnya dengan sepupunya yang meraih ranking 1. Perbandingan ini membuat Raka merasa kalah sebelum mencoba. Intervensi kecil akhirnya dilakukan: guru memberi tugas bertahap, memuji usaha, bukan hasil, dan mengajak orang tua memberi dukungan positif. Tiga bulan kemudian, Raka mulai berani presentasi dan kembali menggambar.

Apa Sebenarnya yang Dialami Anak Seperti Raka?

Banyak faktor dapat mendorong anak jatuh ke sisi inferiority:
* Tekanan akademik yang berlebihan

Target nilai tanpa memahami kemampuan anak dapat merusak motivasi alami.

  • Perbandingan dengan saudara atau teman

    “Lihat, si A bisa.” adalah kalimat yang lebih melukai daripada memotivasi.

  • Lingkungan sekolah yang tidak suportif

    Bullying, kritik berlebihan, atau guru yang terlalu keras mempercepat tumbuhnya rasa tidak mampu.

  • Minimnya ruang eksplorasi

    Anak butuh mencoba—berkali-kali—tanpa takut dimarahi.

  • Pola pengasuhan yang terlalu mengontrol

    Overprotective membuat anak tidak percaya diri mengambil keputusan kecil sekalipun.

Mengapa Tahap Ini Penting untuk Kesehatan Mental?

Gagal melewati tahap ini bisa berdampak panjang hingga remaja dan dewasa:
– mudah merasa tidak layak
– takut mengambil resiko
– perfeksionis ekstrem
– cemas dalam situasi performa
– self-esteem rendah

Banyak masalah kesehatan jiwa pada remaja berakar dari perasaan gagal di usia sekolah.

Bagaimana Lingkungan Bisa Membantu?

  • Fokus pada proses, bukan hasil

    Berikan apresiasi seperti: “Kamu sudah berusaha sangat baik.”

  • Hindari perbandingan

    Setiap anak punya jalur perkembangan unik.

  • Beri tugas sesuai kemampuan anak

    Mulai dari yang sederhana dan tingkatkan bertahap.

  • Sediakan ruang eksplorasi

    Kegiatan seni, olahraga, eksperimen—semua penting.

  • Ciptakan komunikasi aman

    Biarkan anak bercerita tanpa takut dihakimi.

Penutup

Kisah Raka mengingatkan kita bahwa anak usia sekolah sedang bertarung dalam pertempuran psikologis penting: membuktikan bahwa mereka mampu. Ketika rumah dan sekolah menjadi ruang yang aman untuk mencoba, gagal, dan bangkit lagi, anak-anak Indonesia akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang kokoh.

Baca Juga  Pesantren Kembali Beraktivitas di Aceh Utara, Ratusan Masih Dibersihkan dari Lumpur
unnamed Anak Sekolah dan Krisis Rendah Diri yang Sering Diabaikan